Kamis, 25 Oktober 2012

" SECARIK KERTAS DI TANGAN IBU"


Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku sangat membencinya dan membuatku merasa sangat malu. Sehari-harinya ibuku bekerja sebagai pedagang kecil di emperan sebuah toko. Dia mengumpulkan botol-botol bekas untuk dijual kembali untuk membiayai kehidupan kami berdua. 

Suatu hari ketika aku sedang bersekolah, ibuku datang ketika sedang bermain-main dengan temanku. Ibuku datang ke lapangan dan melihatku. Aku merasa sangat malu. Aku menatapnya penuh marah dan kebencian. Aku meninggalkannya begitu saja dan berlari menjauh. Keesokan harinya saat kembali sekolah, teman-temanku mengejek "Ibumu hanya memiliki satu mata?!" mereka mengolok-olokku.

Saya sangat membenci ibuku dan berharap ia menghilang saja dari dunia ini. "Ibu, mengapa matamu cuma satu? Mengapa tidak memiliki mata yang sebelahnya? Ibu tau, aku hanya menjadi bahan tertawaan. Kenapa kau tidak mati saja?" Ibuku hanya terdiam. Saya terdiam sejenak tetapi kembali berpikir bahwa aku tidak menyesal dengan ucapanku. Hampir setiap hari aku mengejek ibu walau ia tidak pernah menghukumku.

Suatu malam aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku menangis disana. Aku melihat padanya sejenak dan kemudian berpaling. Meski begitu, aku semakin membenci ibuku yang sedang menangis dan air matanya keluar dari salah satu matanya. 

Suatu hari aku berkata pada diriku  bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi sukses, karena aku benci sama ibuku yang hanya bermata satu dan miskin.

Aku belajar sangat keras. Aku merantau dan meninggalkan ibuku dan aku pergi ke Seoul dan belajar disana. Aku diterima di Universitas Seoul dan memiliki prestasi yang tinggi. Kemudian aku menikah. Aku membeli sebuah rumah dan hidup bersama istri dan anak-anakku. Sekarang aku hidup bahagia dan sukses. Saya sangat menikmati hidupku karena aku bisa melupakan ibuku.

Suatu hari seseorang tak kuduga dating menemui saya. "Apa! Siapa kamu ??!" ... Saya tahu bahwa dia adalah ibu saya dengan masih satu matanya. Rasanya seolah-olah seluruh langit gelap dan saya marah besar pada wanita tua itu. Gadis kecil saya lari, takut melihat mata ibuku.

Saya bertanya kepadanya, "Siapa kau? Aku tidak tahu kau!" Beraninya kau datang ke rumahku dan menakut-nakuti anakku. Pergi sekarang juga!" Ibuku hanya menjawab, "oh, aku sangat menyesal. Saya mungkin mendapatkan alamat yang salah," lalu dia menghilang. Hmmm saya lega karena dia tidak mengenali saya. 

Suatu hari, ada undangan reuni sekolah dasar datang ke rumahku. Aku berbohong kepada istri dengan mengatakan bahwa saya akan melakukan perjalanan bisnis. Setelah reuni, aku mencoba pergi ke gubuk tua tempat aku lahir dan coba memanggil sekedar mengetahui keadaan ibuku. Saya memanggil namun tidak ada sahutan. Saya masuk dan menemukan ibu jatuh dan telentang di lantai tanah yang dingin. Tapi aku tidak sekalipun merasa sedih apalagi meneteskan air mata. Saya hanya memperhatikan  secarik kertas di tangannya yang merupakan surat kepada saya.


Anakku,
Aku pikir bahwa sekaranglah saat yang indah bagiku untuk meninggalkan dunia ini. Saya tidak akan mengunjungi Seoul lagi. Saya sangat merindukanmu dan saya beranikan diri menemuimu di seoul. Saya sangat bahagia melihat rumah, istri dan anakmu saat itu. Walau hanya sekejap, tetapi aku sudah sangat bahagia melihatmu. 

Aku mengetahui ada reuni dan berharap kau datang kesana. Kuputuskan untuk tidak mendatangimu kesana dan hanya berharap kau datang kesini. Aku menunggumu, tapi aku tak sanggup lagi. Semoga kamu membaca surat ini anakku. Ibu minta maaf bahwa ibu hanya memiliki satu mata dan selalu membuatmu merasa sangat malu.

Dulu, sewaktu kamu masih sangat kecil, kamu mengalami kecelakaan. Saat itu kamu kehilangan satu mata. Ibu tak sanggup melihat kamu harus tumbuh dan dewasa hanya dengan satu mata.Akhirnya ibu merelakan mata ibu hanya untuk kamu. Saya sangat bahagia dan bangga melihat anakku bisa menikmati isi dunia ini dan tumbuh berkembang sampai dewasa. Ibu tidak pernah marah terhadap apapun yang kamu ucapkan. Ibu sangat menyangimu dan merindukan bertemu kamu walau hanya sekali sebelum ibu meninggal. 

Selesai membaca surat itu, aku menangis sekuat-kuatnya. Aku sangat menyesali segala ucapan dan perbuatanku sama ibu. Segala yang kumiliki saat ini sepertinya tidak berguna lagi.                                               Aku menangis sepanjang perjalanan ketika aku kembali ke seoul. Hatiku hancur dan penuh luka mengingat sungguh besar pengorbanan ibuku. Selamat jalan ibuku. 

0 komentar:

Posting Komentar

animasi blog